Posted on

Bulan Ramadhan Sebentar Lagi, Waspada Ancaman Pembungkus Makanan Takjil

KEDATANGAN tamu agung bulan Ramadhan tinggal menghitung hari. Bagi umumnya penduduk Indonesia, tidak saja masyarakat muslim, Ramadhan merupakan momen Istimewa yang selalu dinanti.

Ramadhan tak semata perihal ibadah dan intensitas melaksanakan kebaikan untuk sesama di bulan suci ini. Ramadhan juga yakni dongeng perihal kebersamaan dan cita rasa takjil aneka macam masakan nusantara.

Untuk umumnya pasangan berkeluarga, berbuka puasa di luar merupakan momen spesial. Tak perlu repot. Tinggal tiba ke rumah makan atau restoran pilihan, kemudian menunggu azan Magrib sambil berdoa. Santapan berbuka pun telah tersedia dinikmati.

Ilustrasi: takjil buka puasa/ Pixabay

Selain makan atau berbuka di luar, ada juga orangtua yang punya kebiasaan membeli jajanan takjil di pusat-pusat jajanan lingkungan sekitar untuk dibawa pulang. Tentu saja ini niat yang baik, tapi tetap perlu berhati-hati.

Kenapa harus tetap berhati-hati? Iya dong. Sebab namanya jajanan apalagi yang dijual di pingir-pinggir jalan tidak selalu disajikan dengan proses yang higienis.

Termasuk soal kemasan makanan. Orangtua perlu memastikan kebersihan dan keamanan kemasan yang dipakai ketika membeli kuliner di luar. Sebab tidak semua wadah kuliner benar-benar kondusif digunakan.

Tentu kita cinta kepada keluarga di rumah, terlebih badan kita sendiri. Karena itu, perlu dipastikan kemasan kuliner yang kita gunakan betul kondusif bagi keluarga kita. Sebab, dalam temuan penelitian, didapati kertas pembungkus kuliner yang tidak sehat.

Dalam sebuah penelitian Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), misalnya, menemukan adanya ancaman pada kertas nasi dan kertas daur ulang.

Peneliti Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Lisman Suryanagara, mengingatkan masyarakat akan ancaman kertas nasi dan kertas daur ulang bagi kesehatan manusia.

“Kertas nasi untuk membungkus kuliner ibarat untuk nasi goreng, nasi bungkus, atau martabak yang berwarna cokelat itu mempunyai efek jelek bagi kesehatan, contohnya mengurangi vitalitas bagi laki-laki,” ujar Lisman Suryanaga dikutip dari laman resmi LIPI.

Menurut Lisman, pemanfaatan materi yang dipakai sebagai kemasan makan yang umum dipakai dari masa ke masa antara lain keramik, kaca, plastik, aluminium foil, sampai yang berbahan dasar kertas.

Berbicara perihal kemasan pangan berbahan dasar kertas yang paling lazim dipakai di Indonesia, ternyata masih banyak yang belum layak untuk dijadikan sebagai kemasan pangan primer.

“Masih banyak ditemukan penggunaan kertas koran, kertas bekas cetakan, atau kertas daur ulang sebagai kemasan nasi kotak, nasi bungkus, gorengan, dan kotak martabak,” ujar Lisman memberikan hasil penelitian LIPI.

Dalam riset yang dilakukan LIPI, diketahui jumlah basil yang terkandung dalam kertas pangan yang terbuat dari kertas daur ulang sekitar 1,5 juta koloni per gram, sedangkan rata-rata kertas nasi yang umum dipakai beratnya 70-100 gram, itu artinya ada sebanyak 105 juta-150 juta basil yang terdapat di kertas tersebut.

“Kandungan mikroorganisme di kertas daur ulang mempunyai nilai tertinggi dibandingkan jenis kertas lainnya, ini melebihi batas yang ditentukan,” ujar Lisman lagi.

Ilustrasi: nasi bungkus 

Selain itu, Lisman menyampaikan bahwa zat-zat kimia tersebut berdampak negatif terhadap badan insan dan sanggup memicu aneka macam penyakit ibarat kanker, kerusakan hati dan kelenjar getah bening, mengganggu sistem endokrin, gangguan reproduksi, meningkatkan risiko asma, dan mutasi gen.

Kandungan berbahaya BPA

Senada dengan itu, BPA atau bisphenol A yakni materi kimia yang sering dipakai sebagai materi pembuat wadah makan, bukan hanya plastik, tetapi juga kertas. Awalnya BPA dipakai pada wadah kuliner kaleng biar kaleng tersebut tidak gampang berkarat.

Dilansir dari WebMD, Kurunthachalam Kannan, Ph.D., seorang ilmuwan riset di New York State Department of Health, menyatakan bahwa BPA juga terkandung pada kertas pembungkus kuliner dengan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi.

Kadar BPA tinggi pada umumnya terdapat dalam kertas pembungkus kuliner yang merupakan hasil daur ulang. Bubuk BPA dipakai untuk melapisi kertas supaya lebih tahan terhadap panas.

Selain pada kertas pembungkus makanan, BPA juga sering terdapat pada tisu toilet, kertas koran, kertas struk belanja, maupun tiket.

Saat BPA masuk ke dalam tubuh, zat tersebut sanggup menggandakan fungsi dan struktur hormon esterogen. Karena kemampuannya tersebut, BPA sanggup memengaruhi proses tubuh, ibarat pertumbuhan, perbaikan sel, perkembangan janin, tingkat energi dan reproduksi.

Selanjutnya, kemasan kuliner berbahan dasar kertas non daur ulang bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan penggunaan kemasan daur ulang dan styrofoam dan kemasan kertas non daur ulang baik untuk konsumen, kuliner dan lingkungan.

Seperti di luar negeri trennya sudah ibarat itu jadi untuk mengurangi limbah alasannya biasanya kemasan ini biodegradable dan sudah mempunyai standar keamanan.

Alternatif lainnya, masyarakat sanggup memakai kemasan pangan berkategori food grade yang seratus persen terbuat dari serat alami dengan ciri-ciri tampilan berwarna putih bersih, tidak berbintik-bintik, dan tidak tembus minyak. Di samping itu, karton food grade bersifat ramah lingkungan alasannya gampang terurai.

Yang terpenting tentunya yakni memastikan keluarga kita seminimal mungkin terpapar dari bahan-bahan berbahaya tersebut. Sebab mencegah 100 persen agaknya menjadi tidak mungkin, kecuali dengan perjuangan yang betul-betul maksimal.

Seiring dengan itu, ada baiknya orangtua mengolah dan menyediakan sendiri kuliner bagi belum dewasa dan keluarga besar.

Ketimbang jajan di luar yang belum tentu sehat dan higienis, mengolah sendiri kuliner di rumah tentu merupakan pilihan yang bijak.

Apalagi puasa Ramadhan sebentar lagi. Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita berbelanja materi kuliner berbuka puasa di pusat-pusat kuliner. Tetaplah bijak dan utamakanlah kesehatan.

DEVINA SETIAWAN